Pada zaman yang serba modern seperti ini, tentunya kebutuhan komunikasi antar sesama manusia menjadi semakin mudah. Ditambah lagi dengan adanya penyedia-penyedia layanan sosial media yang begitu marak dan sangat bersaing, membuat masyarakat semakin gencar pula untuk memanfaatkan fasilitas yang diberikan ini.
Sekarang, kita dimudahkan dalam hal berkomunikasi jarak jauh yaitu melalui medsos (red: Media Sosial). Banyak fitur yang dapat kita nikmati. Kita bisa membuat status, posting foto, kirim gambar, komentar, like dan lain sebagainya kepada sesama pengguna yang lain.
Akan tetapi, apakah penggunaan medsos ini selalu berbanding lurus dengan perkembangan etika dalam bersosial? Justru tidak. Banyak pengguna yang malahan kehilangan etika sosial mereka sendiri.
Dulu sebelum medsos marak, kita biasa menanyakan kabar orang lain secara langsung dengan bertemu, atau paling tidak telfon. Tetapi sekarang, kita cukup stalking terhadap wall (dinding) mereka diam-diam, periksa status orang tersebut, atau biasa disebut 'kepoin status' dan hanya sesekali tegur sapa dengan melakukan chat. Dibiasakan oleh adanya Recent Update yang selalu memancing kita untuk ingin tahu urusan orang lain.
Yah, inilah konsekuensi yang harus dihadapi dari perkembangan teknologi yang begitu pesat. Alangkah baiknya kita tetap menjaga agar sikap, tingkah laku dan sosial kita tetap terjaga dengan baik. Semua harus diawali dari hati masing-masing. Kadang terpikir bahwa jika kita sesekali kembali bersosial dengan cara konvensional akan lebih menjaga kualitas etika sosial kita. Kembali tegur sapa secara langsung dan menanyakan kabar. Berbicara melalui telfon bagi yang berjarak jauh itu lebih baik, ditengah-tengah gencarnya perkembangan medsos saat ini. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan yang harus kita hadapi dan lewati agar kestabilan sosial kita tetap terjaga.
Wednesday, 7 December 2016
Konvensional 'Stalk'
Labels:
Etika Sosial,
Konvensional Stalk,
Media Sosial,
Stalking
Subscribe to:
Posts (Atom)