Monday, 4 December 2017

Kompetisi Pendidikan dalam Rangka Memperingati Hardiknas 2017 Kabupaten Morowali Utara

Tanggal 11 Mei 2017 kami segenap guru SM-3T Kabupaten Morowali Utara menggelar sebuah kompetisi tingkat SD, SMP, dan SLB. Kompetisi tersebut merupakan bagian dari acara Gelar Budaya yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2017 di Kabupaten Morowali Utara. Dalam melaksanakan kegiatan ini kami guru SM-3T Kabupaten Morowali Utara bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Mengusung judul kegiatan Lomba Menggambar, Mewarnai dan Desain Poster "Gelar Budaya Hardiknas 2017" kami memiliki tujuan memfasilitasi siswa untuk berkreasi dan berekspresi dalam bidang seni.

Pelaksanaan kegiatan ini cukup sederhana namun sarat akan makna. Untuk lomba menggambar kategori SD, kami menentukan tema yaitu "lingkungan". Sedangkan tema untuk kategori SMP yang berkompetisi dalam pembuatan desain poster adalah "jauhi narkoba", dan tema bebas untuk kategori SLB. Penentuan tema ini bukan tanpa alasan, melainkan bertujuan untuk membangun karakter siswa untuk selalu mencintai lingkungan dan menjauhi narkoba.

Semua kegiatan ini dilaksanakan oleh guru SM-3T se-kabupaten Morowali Utara yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acara. Bahkan salah satu dari guru SM-3T juga menjadi juri dalam kompetisi ini.

Kegiatan yang merupakan program kerja guru SM-3T dan juga bagian dari Gelar Budaya Kab. Morut ini diapresiasi oleh banyak pihak, diantaranya para siswa, guru, kepala sekolah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Morut, dll. Acara ini bukan sekadar kompetisi yang mencari pemenang, namun kegiatan yang akan selalu terkenang. Tayangan lengkapnya dapat dilihat di https://youtu.be/95IcGQGUoEg


Sunday, 9 April 2017

Selayang Pandang Sekolah Tempat Penugasan SM3T

Peserta SM3T mengemban tugas utama yaitu menjadi pendidik di daerah 3T. Tugas tersebut dilaksanakan tentunya melalui sekolah-sekolah yang telah dipilih oleh Dinas Pendidikan setempat.

Penulis sendiri ditugaskan di SMAN 2 Mori Atas. Sekolah yang terletak di Desa Saemba Kecamatan Mori Atas Kabupaten Morowali Utara. Sekolah ini tergolong sekolah yang sangat baru, karena baru berdiri selama kurang lebih tiga tahun (2013 - 2016). Ketika penulis datang, sekolah ini baru satu kali meluluskan siswanya.

Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah, ketika awal berdiri sekolah ini belum memiliki gedung sama sekali.  Jadi sementara kegiatan pembelajaran dilakukan dengan meminjam ruang kelas dari sekolah lain, yaitu salah satu SMP di desa tersebut. Ketika sudah mulai memiliki gedung di tahun pertama, fasilitas meja kursi pun masih belum ada. Jadi terpaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan duduk melantai. Siswa angkatan pertama pada sekolah ini berjumlah tujuh orang. Ketujuh siswa ini berasal dari desa-desa yang ada di sekitar SMA. Alasan mereka bersekolah di SMA ini karena ingin dekat dengan orang tua. Selain itu karena akses ke SMA lain sangat jauh dan susah. Sekolah ini dipilih demi keamanan dan meminimalisir biaya pendidikan yang dikeluarkan.

Meskipun dengan keadaan awal seperti itu, semangat belajar siswa-siswa angkatan pertama SMAN 2 Mori Atas sangatlah tinggi, sehingga secara otomatis hal ini mendorong guru-guru di sana untuk bersemangat dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik di tengah keterbatasan yang ada. SMA Negeri yang terletak di tengah-tengah "padang rumput tidur" dengan 1 gedung kecil tanpa meja kursi, kamar mandi, ruang kantor, perpustakaan, laboraturium dan pagar sekolah. Itulah kondisi awal berdirinya sekolah ini. Sekolah tempat penempatan kami yang sangat butuh perhatian dari pemerintah daerah.        

Tenaga pengajar pertama hanya kepala sekolah, dibantu dengan guru-guru senior dari SMP setempat. Guru pertama pada sekolah ini sangatlah sedikit dengan jumlah lima guru termasuk kepala sekolah. Adapun guru-guru ini harus mampu mengajar mata pelajaran Agama dan PKn, bidang IPS, bidang IPA, bidang bahasa dan mulok. Tentu menjadi guru di sekolah baru bukan semudah di sekolah yang sudah berdiri lama. Guru pertama di sekolah ini harus bisa mengampu 2 sampai 3 mata pelajaran untuk dapat memenuhi tuntutan kurikulum yang ada. Melihat kondisi ini merupakan sebuah dilema, disisi yang pertama guru harus dituntut mendidik dengan kompetensi dan profesionalisme sesuai bidangnya, disisi lain kurikulum menuntut sekolah untuk memberikan 14 sampai 16 mata pelajaran perminggu kepada siswa. Masalah kekurangan guru ini memang menjadi prioritas yang perlu diselesaikan oleh sekolah dan pemerintah sebagai regulator kebijakan pendidikan. Disinilah peran kami mulai dihadirkan, kami sebagai guru SM3T saat ini ditugaskan untuk membantu sekolah yang sedang mengalami permasalahan kekurangan guru seperti ini. Selain itu kami pun diminta untuk mampu secara profesional dalam memberikan pemahaman tentang metode mengajar yang baik, pemanfaatan media dan sumber belajar serta perbaikan dalam perangkat dan evaluasi pembelajaran.

Memasuki usianya yang keempat, SMAN 2 Mori Atas mulai berbenah dan meningkatkan pelayanan pendidikannya. Pembangunan kelas baru, ruang perpustakaan, ruang kantor, pagar sekolah dan kantin pun dilakukan demi menciptakan suasana belajar yang baik. Pembelian buku, meja-kursi, alat olahraga dan media/peraga pembelajaran pun terus ditambah setiap tahunnya. Selain itu jumlah guru pun ditambah, tetapi beberapa mata pelajaran belum memiliki pengampu. Alhasil masih ada guru yang mengampu dua mata pelajaran atau lebih. Melihat perkembangannya yang cukup baik semua orang menaruh harapan besar pada sekolah ini untuk terus berkembang dan mampu memberikan fasilitas yang lengkap dan baik bagi siswa-siswanya.

Sunday, 19 March 2017

Profil Singkat Desa Pengabdian

Saemba, adalah desa yang terletak di provinsi Sulawesi Tengah tepatnya di kecamatan Mori Atas. Desa yang dikelilingi oleh bukit-bukit ini berada tepat di perbatasan antara Kab. Poso dan Kab. Morowali Utara yaitu sebelah barat daya dari kabupaten Morowali Utara. Jarak tempuh desa ini ke wilayah kabupaten Poso lebih dekat dibandingkan ke pusat pemerintahan kabupaten Morowali Utara. Jadi, masyarakat desa ini lebih sering berkunjung ke wilayah kabupaten lain daripada ke kabupaten sendiri. Yah, begitulah perbatasan.

Masyarakat desa Saemba 98% beragama Kristen dan sisanya adalah Islam dan Hindu. Karena mayoritas agama di desa ini adalah Kristen, maka kegiatan-kegiatan yang paling banyak adalah kegiatan keagamaan umat Kristen. Apalagi ketika perayaan hari besar umat Kristen, seperti Natal dan Tahun Baru. Desa ini merayakannya dengan sangat meriah. Bahkan serangkaian kegiatannya dilaksankan selama 1 bulan sebelumnya.
 
Orang-orang desa Saemba sangat ramah. Terbukti ketika ada pendatang yang bermukim di desa ini (seperti kami), akan disambut dan diberi pelayanan sebaik-baiknya selama disini. Toleransi keagamaan juga sangat dijunjung tinggi. Masyarakat desa ini sangat menghargai perbedaan agama. Contohnya: Ketika mereka mengadakan suatu kegiatan pesta dan mengundang  orang dari agama lain, makanan yang dihidangkan pasti dibedakan. Mulai dari kokinya, alat masak, hingga bahan-bahannya.

Mata pencaharian masyarakat desa Saemba ini mayoritas adalah bertani dan berkebun. Hasil pertanian rata-rata adalah padi dan jagung. Ada hasil perkebunan yaitu cokelat dan sawit. Selain bertani, pekerjaan masyarakat desa ini adalah pendeta, guru, bidan, perangkat desa, dan lain-lain. Kondisi ekonomi masyarakat desa ini rata-rata menengah-kebawah. Hal ini dapat terlihat dari gaya hidup mereka yang masih sederhana, penghasilan tiap bulan yang rata-rata masih dibawah 2 juta dan rumah-rumah yang mereka miliki kebanyakan masih terbuat dari bambu atau kayu. Akan tetapi walaupun begitu, sebagian besar mereka sudah memiliki kendaraan pribadi seperti motor dan mobil. Menurut pengamatan penulis, mengapa mereka menomorsatukan kendaraan daripada tempat tinggal? Alasannya adalah kendaraan yang mereka miliki ini sudah menjadi kebutuhan primer bagi mereka. Desa ini sangat jarang dilewati kendaraan umum. Pekerjaan mereka sehari-hari membutuhkan transportasi, seperti ke sawah atau kebun. Akhirnya mereka sangat membutuhkan kendaraan seperti motor pribadi.

Hubungan antar warga yang satu dengan yang lain sangat baik. Nilai-nilai kebersamaan selalu terjalin baik dalam seluruh lapisan masyarakat desa Saemba ini. Menurut penulis, hal ini terjadi karena ketaatan mereka dalam beragama sangat baik. Hampir seluruh warga desa Saemba, mulai dari yang kecil hingga yang tua selalu bersemangat untuk beribadah. Jika tiba waktunya ibadah, mereka akan meninggalkan apapun kesibukan mereka, dan bergegas menuju gereja atau tempat ibadah mereka. Semangat beribadah merekalah yang patut diacungi jempol dan ditiru untuk pemeluk-pemeluk agama lain.

Kami sebagai pendatang merasa sangat nyaman tinggal di desa ini. Kami diterima dan diperlakukan dengan baik. Penulis berpesan jika ingin diterima dan diperlakukan dengan sangat baik oleh warga/masyarakat desa yang kita datangi, kuncinya adalah memprioritaskan penyesuaian dengan kebiasaan mereka. Seperti kata pepatah Jawa, desa mawa cara, negara mawa tata. Artinya, setiap desa atau daerah memiliki cara dan adat yang berbeda-beda. Jadi jangan terlalu memaksakan kebiasaan-kebiasaan dari daerah asal yang berbeda dengan kebiasaan di daerah yang kita datangi.

Kami berharap hubungan kami dengan masyarakat desa Saemba akan tetap terjalin dengan baik tidak hanya sampai akhir penugasan kami, namun selamanya. As we know, a good relationship will create a good society.

Terimaksih telah membaca, dont forget to click the follow button. ^,^

Sunday, 5 March 2017

Perjalanan Awal ke Tempat Pengabdian

Pada waktu itu kami masih menjalani karantina di salah satu Instansi Militer yang ada di Kota Malang. Menginjak hari-hari terakhir, yaitu hari-hari diumumkannya tempat penugasan kita, perasaan kami begitu berdebar-berdebar karena menunggu hasil penempatan.

Tibalah hari tersebut, tepatnya tanggal 31 Agustus 2016. Hari itu adalah H-1 pemberangkatan. Kami menerima pengumuman penempatan hanya beberapa jam sebelum kami berangkat ke daerah masing-masing. Terdapat 5 (lima) kabupaten penempatan yang dipilih untuk penugasan kami. Lima lokasi tersebut adalah Kab. Simeulue, Kab. Manggarai Barat, Kab. Morowali Utara, Kab. Boalemo dan Kab. Pegunungan Bintang. Setelah melewati berbagai kecamuk dan rasa penasaran, ternyata saya ditugaskan di Kabupaten Morowali Utara Prov. Sulawesi Tengah. Pada saat itu perasaan campur aduk, entah senang atau sedih, yang jelas dalam pikiran saya sebentar lagi saya akan berangkat meninggalkan pulau Jawa untuk satu tahun penuh tanpa boleh pulang.

Malam pun tiba, sebelum berangkat kami dikumpulkan terlebih dahulu dengan teman-teman satu penempatan untuk melakukan rapat serta briefing persiapan pemberangkatan. Saya dan teman-teman penempatan Morowali Utara berjumlah 57 orang berangkat dari lokasi karantina Pk. 02.00 WIB (dini hari), jadi kami tidak tidur pada malam itu. Bahkan mencoba tidurpun tidak bisa.

Kami berangkat menggunakan bus yang telah disiapkan oleh pihak LPTK. Ada hal lucu yang terjadi sebelum pemberangkatan malam itu. Ada banyak bus yang datang ke lokasi karantina untuk mengantar kami ke bandara, dengan jenis yang berbeda-beda. Bus yang seharusnya kami tumpangi adalah bus yang berkapasitas 60 orang. Awalnya kami menaikkan barang-barang bawaan kami ke dalam bus yang ditujukan untuk penempatan lain, dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit dari kami. Setelah barang-barang dinaikkan semua, barulah kelihatan kalau bus ini bukan bus untuk penempatan kami. Jadi terpaksa kami harus menurunkan kembali barang bawaan kami dan menaikkannya ke dalam bus yang seharusnya. Setelah itu kami melakukan perjalanan menuju bandara Juanda selama 3,5 jam.  Kami dijadwalkan terbang Pk. 08.00 WIB. Kami check in di bandara pagi itu, tanpa kendala dan langsung terbang menuju Kota Palu ibukota Prov. Sulawesi Tengah.

Pukul 12.00 WITA pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Sis Al-Jufri kota Palu. Setelah turun dari pesawat kami pun kaget. Suhu udara disini sangat berbeda dengan di Jawa, khususnya Malang. Udara di kota ini begitu panas dan gerah, apalagi kami tiba di siang bolong dengan terik matahari yang cukup menyengat. Serasa ada tiga matahari di atas kepala kami. Yah, tapi kami menyadari memang kota ini secara geografis adalah kota yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga kondisinya berbeda dengan Pulau Jawa.

Perjalanan masih panjang, siang itu kami melanjutkan perjalanan menuju Kab. Morowali Utara tepatnya di Kota Kolonodale, ibukota Kab. Morowali Utara. Perjalanan darat ini cukup melelahkan, karena harus melewati gunung-gunung dengan jalan yang berkelok-kelok. Beberapa dari kami sempat mabuk darat waktu itu. And after 18 hours we finally arrived. Yepp, it was literally a fucking 18 hours by car. Betapa lamanya perjalanan tersebut, jadi kami tiba di Kolonodale pagi hari sekitar Pk. 06.00 WITA. Sampai disana kami belum beristirahat, karena kami harus segera mengikuti acara penerimaan guru SM3T yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali Utara. Letih dan lelah semua campuar jadi satu. Akan tetapi kami sadar kami tidak boleh mengeluh ataupun menyesal. Karena kami telah dididik dan dibina agar memiliki fisik dan mental yang prima.

Setelah acara penerimaan selesai, masih lanjut kembali perjalanan darat menuju desa penempatan masing-masing. Kebetulan saya bersama 4 teman saya yang lain ditempatkan di desa yang sama yaitu Desa Saemba. Perjalanan ini masih lumayan lama juga, karena harus melewati medan jalan yang terjal. Kondisi jalan 80% masih tanah dan belum diaspal. Selama lima jam kami melakukan perjalanan terakhir selama pemberangkatan ini. Akhirnya kami tiba di desa penempatan kami. Desa yang benar-benar jauh dari pusat perkotaan. Desa yang indah, nyaman dan tentram. Desa yang menjadi tempat pengabdian kami selama 1 (satu) tahun kedepan. From here all we start it. And we will never give up till the end.

Friday, 17 February 2017

Tips Lolos Seleksi SM3T

Pada tulisan sebelumnya telah saya bahas pengertian SM3T secara umum. Nah, selanjutnya akan saya ulas mengenai tahapan dalam seleksi SM3T. Telah kita ketahui bersama bahwa program ini dipayungi oleh pemerintah, jadi kita tidak serta merta dapat menjadi peserta SM3T. Kita harus melalui beberpa tahapan seleksi. Seleksi dilaksanakan oleh masing-masing LPTK yang telah ditunjuk. Contoh LPTK di Prov. Jawa Timur yang ditunjuk untuk menyelenggarakan seleksi SM3T adalah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Negeri Malang (UM).

Terdapat beberapa tes/ujian yang perlu dilewati sebelum menjadi peserta SM3T ini. Selain itu, terdapat standar nilai yang yang harus terpenuhi apabila kita berkeinginan lolos. Ada juga batasan kuota peserta. Angkatan saya lalu kuota yang diterima Nasional adalah 3000 orang. Sedangkan tiap-tiap LPTK penyelenggara memiliki kuota sekitar 250 orang.

Berikut tahapan-tahapan seleksi SM3T berserta tips agar peluang lolos semakin besar yang saya paparkan berdasarkan pengalaman saya:

1. Seleksi Administrasi
Pada seleksi ini, calon peserta diminta untuk memenuhi segala persyaratan dan berkas-berkas yang telah ditentukan. Berkas diunggah secara online di alamat http://seleksi.dikti.go.id/sm3t/ . Tidak ada strategi khusus dalam tahapan administrasi ini. Yang terpenting semua persyaratan yang telah ditentukan dapat kita penuhi. Dimulai dari persyaratan akreditasi prodi, batas umur, dokumen-dokumen S1, surat pernyataan, dan yang lainnya.

2. Seleksi Online (Tes Materi Bidang Studi)
Setelah dinyatakan lolos seleksi andministrasi, kita akan mendapatkan panggilan untuk menuju ke tahap berikutnya yaitu tes online. Tes ini mirip dengan tes-tes online yang lain. Tes ini dilaksanakan dengan menggunakan komputer, biasa disebut CBT dan bertempat di LPTK masing-masing. Kita akan mengerjakan soal-soal melalui komputer yang telah terhubung jaringan. Soal-soal yang diujikan adalah soal dari bidang studi kita. Tiap-tiap prodi mendapatkan jumlah nomor soal yang berbeda. Contoh, saya dari prodi fisika dulu mengerjakan soal berjumlah 40 nomor pilihan ganda, prodi lain seperti penjas mendapat hingga 90 nomor. Semua tergantung prodi masing-masing. Sistem penilaiannya sama seperti UN, yaitu hanya diperhitungkan jumlah jawaban benar saja. Yang salah mendapat poin nol alias tidak diperhitungkan. Jadi, sangat disarankan agar semua nomor terisi jawaban.

3. Tes Wawancara dan Microteaching
Setelah lolos tes online, dapat kita anggap lebih dari separuh proses seleksi SM3T ini terlewati. Selanjutnya kita dihadapkan pada tes yang cukup penting, yaitu microteaching dan wawancara. Sebelumnya, saat pengumuman lolos tes online kita akan diberitahu untuk mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan disimulasikan ketika tes microteaching. Materi bebas sesuai dengan bidang studi. Durasi RPP juga tidak ditentukan.

Kemudian pada pelaksanaan tesnya, kita akan dikumpulkan dengan calon peserta lain yang se-bidang studi dengan kita. Masing-masing peserta diberi waktu untuk tampil praktik mengajar dengan durasi 5 - 10 menit saja. Jadi mungkin beberapa tahapan pembelajaran diminta untuk dilewati (skip) oleh penguji. RPP dikumpulkan ke penguji. Kemudian yang memerankan menjadi peserta didik adalah teman-teman kita sendiri yang se-bidang studi. Nah, tips yang dapat saya sarankan pada tahap ini adalah; a) pilih materi yang menurut kita paling kita kuasai dan paling mudah; b) usahakan menggunakan media/alat peraga sederhana yang telah kita persiapkan sebelumnya; c) jangan menggunakan media yang berhubungan dengan teknologi/IT. Jelas karena kita akan ditempatkan di daerah pelosok; d) percaya diri.

Selanjutnya adalah tes wawancara. Seperti tes wawancara pada umumnya, pada tes ini kita akan ditanyai seputar kepribadian, prinsip hidup, kesiapan hati, pikiran dan mental untuk ditempatkan di daerah 3T. Contoh pertanyaan yang sering muncul adalah pertanyaan-pertanyaan permasalahan seperti: Bagaimana sikap anda?
a) Jika di daerah penempatan anda susah mendapatkan listrik, air dan sinyal?
b) Jika mayoritas penduduknya memiliki kebiasaan atau budaya yang berbeda dengan keyakinan yang selama ini anda pegang?
c) Jika di daerah penempatan terjadi konflik yang cukup serius?

Pertanyaan lain mungkin seperti ini:
d) Tujuan mengikuti SM3T?
e) Dapat info tentang SM3T darimana?
f) Keahlian apa yang dapat anda kembangkan di daerah penempatan selain mengajar?
dan lain-lain. Pada intinya, agar peluang lolos pada wawancara ini besar, kita harus menjawab dengan yakin, jujur apa adanya, dan gunakan pemikiran yang matang serta bijak. Jangan terkesan ragu, ambisius dan asal pilih enaknya saja.

4. Prakondisi 2 Minggu (Karantina)
Setelah mengikuti tes wawancara dan microteaching. Jika lolos kita akan mendapatkan panggilan untuk mengikuti prakondisi selama 2 minggu di tempat-tempat pelatihan yang sudah ditentukan sebelumnya. Ada yang mengatakan jika sudah sampai tahap prakondisi, sangat besar kemungkinan lolos menjadi peserta SM3T. Akan tetapi jangan lega terlalu dini, mengapa prakondisi ini masih termasuk tahapan seleksi SM3T? Jawabnya Ya, karena selama 2 minggu kita dilatih fisik dan mental agar siap ditempatkan dipenjuru negeri seluruh Indonesia sehingga masih besar kemungkinan peserta gugur atau mengundurkan diri karena tidak kuat.

Pada tahap prakondisi ini kita dikarantina selama 2 minggu dengan peraturan yang cukup ketat. Kedisiplinan yang sangat tinggi. Biasanya penyelenggara prakondisi ini adalah instansi militer. Pengalaman saya dulu adalah bertempat di Pangkalan TNI-AL.

Setiap hari, kita dilatih disiplin mulai pagi setelah bangun tidur hingga malam sebelum tidur lagi. Dulu slogan yang ditanamkan kepada kami adalah "Waktu yang mengatur anda, bukan anda yang mengatur waktu". Jadi maksudnya adalah menjaga kedisiplinan waktu dengan kompak pada setiap kegiatan. Padatnya kegiatan akan sangat menguji daya tahan tubuh kita.  Prakondisi ini akan membekali kita tentang banyak hal, mulai dari materi kebangsaan, bela negara, cara bertahan hidup, administrasi pendidikan, strategi mengajar di daerah 3T, dan lain-lain. Setelah 2 minggu terlewati, pada hari-hari terakhir baru akan diumumkan penempatan kita masing-masing. Itulah saat-saat yang paling mendebarkan karena menyangkut masa depan selama 1 tahun pengabdian. Dengan diumumkannya penempatan kita ini, selesai sudah tahapan seleksi SM-3T dan kita semua telah resmi menjadi Masyarakat SM-3T.

Nah, itulah paparan yang cukup rinci mengenai tahapan seleksi SM3T beserta tips/strategi agar peluang lolos semakin besar yang saya paparkan berdasarkan pengalaman pribadi saya. Semoga bermanfaat. Thanks for reading and don't forget to click the follow button. ^,^

Friday, 10 February 2017

Mengapa SM3T?

Perkenalkan nama saya Ryan. Saat ini saya sedang menjalani tugas pengabdian pada program yang diadakan pemerintah yang dijadwalkan selama 1 tahun. Program ini bernama SM3T.

Apa itu SM3T?? Secara umum sudah banyak yang mengulas atau menulis tentang SM3T ini di Internet. Maka dari itu saya akan menyampaikan sedikit gambaran, apa itu SM3T dari sudut pandang, pengetahuan dan pengalaman saya pribadi.

SM3T merupakan kepanjangan dari Sarjana Mendidik di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal), adalah program yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Mengirimkan sarjana muda (belum menikah) dari berbagai program studi pendidikan untuk mengabdi menjadi guru selama 1 tahun di daerah yang tergolong kurang maju (pelosok). Pemerataan pendidikan untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau adalah salah satu inti tujuan dari program ini. Tentunya banyak sekali tantangan-tantangan yang harus dilalui oleh para guru SM3T. Mulai dari akses menuju lokasi pengabdian yang terkadang harus melalui perjalanan yang ekstrim, tidak layak bahkan mempertaruhkan nyawa. Mengabdi di daerah dengan segala keterbatasan yang ada, mendidik tanpa fasilitas yang layak disekolah. Hal-hal tersebut membuat guru SM3T ini memiliki keistimewaan tersendiri dibanding guru non-SM3T lainnya. Banyak pengorbanan yang harus diberikan oleh guru-guru SM3T. Mengemban tugas mulia untuk mencerdaskan anak bangsa yang mereka mulai dari pelosok negeri. Nah, lantas apa jaminan yang diberikan pemerintah untuk para pejuang-pejuang pendididikan ini sebagai timbal balik dari penugasan mereka?
Tentu ada "imbalan" yang telah disiapkan pemerintah untuk mewadahi para guru-guru SM3T ini. Imbalan tersebut berupa jenjang karir yang lebih jelas.

Selama ini kita ketahui bersama, kondisi pendidikan di Indonesia masih belum sempurna, bahkan masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak perubahan-perubahan yang dilakukan untuk membenahi sistem dari pendidikan di negeri kita ini. Termasuk jenjang karir dari para pendidiknya. Kesejahteraan guru-guru di Indonesia rata-rata masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya guru yang menomorduakan profesi gurunya tersebut karena tidak mendapatkan penghasilan yang cukup.

Adanya SM3T ini, pemerintah ingin memberikan jalan yang lebih jelas kepada para peserta yang mengikutinya. Setelah program SM3T, para peserta akan diikutkan program PPG (Pendidikan Profesi Guru). Program PPG ini semacam legalisasi seseorang dalam bidang pendidikan atau keguruan. Memang sempat awal-awal lalu terdapat pro dan kontra terkait adanya PPG ini. Akan tetapi itu semua tidak mengubah segala aturan dalam pelaksanaan program PPG. Jadi intinya, apabila seseorang telah mengikuti PPG dan berhasil lulus dari serangkaian tesnya, maka orang tersebut telah diakui secara legal dan profesional sebagai seorang pendidik yang dituangkan melalui sertifikat pendidik. Bahkan berhak mendapat gelar tambahan dibelakang gelar sebelumnya yaitu Guru (gr). Tetapi jika sebaliknya, orang tersebut belum diakui sebagai pendidik yang profesional.

Program PPG ini juga erat kaitannya dengan rekrutmen atau pengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) atau sekarang biasa disebut Calon Aparatur Sipil Negara (CASN). Karena kabarnya mulai dari 1 Januari 2016 lalu, pemerintah telah mewajibkan bagi seluruh pelamar CPNS formasi Guru untuk memiliki sertifikat pendidik tersebut yang hanya didapatkan setelah mengikuti program PPG. Sedangkan hingga saat ini program PPG hanya dapat diikuti oleh para alumni SM3T, karena program PPG reguler belum dibuka. Ditambah lagi apabila jalur reguler program PPG dibuka, biaya yang diperlukan untuk mengikuti program tersebut tidak sedikit yang harus dikeluarkan. Akan tetapi, bagi para alumni SM3T akan mendapatkan beasiswa berasrama full selama 1 th PPG. Nah, Itulah beberapa hal dari segala keistimewaan yang diberikan pemerintah kepada para peserta SM3T ini. Pada tulisan berikutnya akan saya ulas tentang tahapan-tahapan seleksi dari program SM3T.

Thank you for reading, don't forget to click the follow button. ^,^


Sunday, 22 January 2017

Manajemen Keputusan

Menjadi seorang manusia yang berada dilingkungan akademisi, tentunya dibiasakan dengan kondisi-kondisi dimana dalam segala urusan pembicaraan, akan selalu dikaitkan dengan ilmu-ilmu, teori-teori, hukum,  bahkan sumber yang jelas. Normalnya semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka kualitas pembicaraan juga semakin berbobot. Akibatnya, pola pikir manusia pun pada akhirnya akan bertumpu pada pertimbangan-pertimbangan yang berbobot pula. Termasuk dalam menentukan pilihan untuk melangkah. Contoh yang sering terjadi ketika menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang matang tersebut adalah di saat memilih jalan untuk meraih impian atau cita-cita.

Selama hidup, tentunya banyak hal yang ingin kita raih. Banyak cita-cita atau impian yang ingin dicapai. Sedangkan pada umumnya, cita-cita erat kaitannya dengan suatu pekerjaan/profesi. Inginnya menjadi orang sukses melalui bermacam-macam profesi seperti: pengusaha, guru/dosen, tentara/polisi, pegawai bank, perusahaan pertambangan dan lain-lain. Ambil satu contoh, ada seseorang yang berkeinginan menjadi dosen, pasti dari awal dia akan berusaha dengan mencoba berbagai jalan. Mulai dari mencoba berbagai jenis beasiswa pascasarjana dari pemerintah, swasta, luar negeri atau yang lainnya. Setelah itu selesai, dia tentu mendaftar ke setiap kampus yang membuka lowongan pekerjaan.

Nah, karena begitu banyaknya jalan untuk meraih suatu cita-cita tersebut, pada akhirnya kita mencoba semua jalan yang ada. Perlu kita ketahui, maksud dari mencoba semua jalan yang ada bukanlah mencoba dengan segala cara atau jalan yang tidak dibenarkan. Tetapi mencoba semua jalan dengan maksud untuk memperbesar peluang agar cita-cita tersebut tercapai.

Di saat jalan-jalan yang ada di depan mata terpampang dalam satu waktu, kita tentunya terpikir untuk mencoba semua jalan itu (jika mampu). Hal ini tidak salah, apalagi persaingan di zaman seperti sekarang ini semakin membuat kita was-was, pengangguran semakin banyak. Jangan sampai kita salah dalam mengambil keputusan. Karena hal tersebut akan sangat berpengaruh kepada diri kita dimasa mendatang. 

Pertimbangan-pertimbangan yang matang akan sangat diperlukan pada fase ini. Hal ini tergantung dari bagaimana kita menentukan keputusan, membuat prioritas, analisis keberhasilan, pengelolaan pertimbangan yang baik. Semua itu akan menentukan nasib kita sendiri. Kita harus memilih jalan yang jelas, tentu tidak mungkin kita melewati dua atau tiga jalan secara bersamaan. Karena pada suatu titik, harus ada yang diutamakan atau harus ada yang yang dikalahkan. Maka putuskanlah hanya satu jalan untuk satu tujuan dengan pertimbangan yang matang.

Ketika pilihan sudah diputuskan melalui manajemen yang baik, kita hanya perlu fokus dan meyakini bahwa itulah yang terbaik. Meningkatkan profesionalitas di dalamnya. Menjalani dengan maksimal dan penuh rasa syukur. Because good management will always result the best. We must believe the truth is only one. ^,^