Sunday, 5 March 2017

Perjalanan Awal ke Tempat Pengabdian

Pada waktu itu kami masih menjalani karantina di salah satu Instansi Militer yang ada di Kota Malang. Menginjak hari-hari terakhir, yaitu hari-hari diumumkannya tempat penugasan kita, perasaan kami begitu berdebar-berdebar karena menunggu hasil penempatan.

Tibalah hari tersebut, tepatnya tanggal 31 Agustus 2016. Hari itu adalah H-1 pemberangkatan. Kami menerima pengumuman penempatan hanya beberapa jam sebelum kami berangkat ke daerah masing-masing. Terdapat 5 (lima) kabupaten penempatan yang dipilih untuk penugasan kami. Lima lokasi tersebut adalah Kab. Simeulue, Kab. Manggarai Barat, Kab. Morowali Utara, Kab. Boalemo dan Kab. Pegunungan Bintang. Setelah melewati berbagai kecamuk dan rasa penasaran, ternyata saya ditugaskan di Kabupaten Morowali Utara Prov. Sulawesi Tengah. Pada saat itu perasaan campur aduk, entah senang atau sedih, yang jelas dalam pikiran saya sebentar lagi saya akan berangkat meninggalkan pulau Jawa untuk satu tahun penuh tanpa boleh pulang.

Malam pun tiba, sebelum berangkat kami dikumpulkan terlebih dahulu dengan teman-teman satu penempatan untuk melakukan rapat serta briefing persiapan pemberangkatan. Saya dan teman-teman penempatan Morowali Utara berjumlah 57 orang berangkat dari lokasi karantina Pk. 02.00 WIB (dini hari), jadi kami tidak tidur pada malam itu. Bahkan mencoba tidurpun tidak bisa.

Kami berangkat menggunakan bus yang telah disiapkan oleh pihak LPTK. Ada hal lucu yang terjadi sebelum pemberangkatan malam itu. Ada banyak bus yang datang ke lokasi karantina untuk mengantar kami ke bandara, dengan jenis yang berbeda-beda. Bus yang seharusnya kami tumpangi adalah bus yang berkapasitas 60 orang. Awalnya kami menaikkan barang-barang bawaan kami ke dalam bus yang ditujukan untuk penempatan lain, dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit dari kami. Setelah barang-barang dinaikkan semua, barulah kelihatan kalau bus ini bukan bus untuk penempatan kami. Jadi terpaksa kami harus menurunkan kembali barang bawaan kami dan menaikkannya ke dalam bus yang seharusnya. Setelah itu kami melakukan perjalanan menuju bandara Juanda selama 3,5 jam.  Kami dijadwalkan terbang Pk. 08.00 WIB. Kami check in di bandara pagi itu, tanpa kendala dan langsung terbang menuju Kota Palu ibukota Prov. Sulawesi Tengah.

Pukul 12.00 WITA pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Sis Al-Jufri kota Palu. Setelah turun dari pesawat kami pun kaget. Suhu udara disini sangat berbeda dengan di Jawa, khususnya Malang. Udara di kota ini begitu panas dan gerah, apalagi kami tiba di siang bolong dengan terik matahari yang cukup menyengat. Serasa ada tiga matahari di atas kepala kami. Yah, tapi kami menyadari memang kota ini secara geografis adalah kota yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga kondisinya berbeda dengan Pulau Jawa.

Perjalanan masih panjang, siang itu kami melanjutkan perjalanan menuju Kab. Morowali Utara tepatnya di Kota Kolonodale, ibukota Kab. Morowali Utara. Perjalanan darat ini cukup melelahkan, karena harus melewati gunung-gunung dengan jalan yang berkelok-kelok. Beberapa dari kami sempat mabuk darat waktu itu. And after 18 hours we finally arrived. Yepp, it was literally a fucking 18 hours by car. Betapa lamanya perjalanan tersebut, jadi kami tiba di Kolonodale pagi hari sekitar Pk. 06.00 WITA. Sampai disana kami belum beristirahat, karena kami harus segera mengikuti acara penerimaan guru SM3T yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali Utara. Letih dan lelah semua campuar jadi satu. Akan tetapi kami sadar kami tidak boleh mengeluh ataupun menyesal. Karena kami telah dididik dan dibina agar memiliki fisik dan mental yang prima.

Setelah acara penerimaan selesai, masih lanjut kembali perjalanan darat menuju desa penempatan masing-masing. Kebetulan saya bersama 4 teman saya yang lain ditempatkan di desa yang sama yaitu Desa Saemba. Perjalanan ini masih lumayan lama juga, karena harus melewati medan jalan yang terjal. Kondisi jalan 80% masih tanah dan belum diaspal. Selama lima jam kami melakukan perjalanan terakhir selama pemberangkatan ini. Akhirnya kami tiba di desa penempatan kami. Desa yang benar-benar jauh dari pusat perkotaan. Desa yang indah, nyaman dan tentram. Desa yang menjadi tempat pengabdian kami selama 1 (satu) tahun kedepan. From here all we start it. And we will never give up till the end.

No comments: