Peserta SM3T mengemban tugas utama yaitu menjadi pendidik di daerah 3T. Tugas tersebut dilaksanakan tentunya melalui sekolah-sekolah yang telah dipilih oleh Dinas Pendidikan setempat.
Penulis sendiri ditugaskan di SMAN 2 Mori Atas. Sekolah yang terletak di Desa Saemba Kecamatan Mori Atas Kabupaten Morowali Utara. Sekolah ini tergolong sekolah yang sangat baru, karena baru berdiri selama kurang lebih tiga tahun (2013 - 2016). Ketika penulis datang, sekolah ini baru satu kali meluluskan siswanya.
Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah, ketika awal berdiri sekolah ini belum memiliki gedung sama sekali. Jadi sementara kegiatan pembelajaran dilakukan dengan meminjam ruang kelas dari sekolah lain, yaitu salah satu SMP di desa tersebut. Ketika sudah mulai memiliki gedung di tahun pertama, fasilitas meja kursi pun masih belum ada. Jadi terpaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan duduk melantai. Siswa angkatan pertama pada sekolah ini berjumlah tujuh orang. Ketujuh siswa ini berasal dari desa-desa yang ada di sekitar SMA. Alasan mereka bersekolah di SMA ini karena ingin dekat dengan orang tua. Selain itu karena akses ke SMA lain sangat jauh dan susah. Sekolah ini dipilih demi keamanan dan meminimalisir biaya pendidikan yang dikeluarkan.
Meskipun dengan keadaan awal seperti itu, semangat belajar siswa-siswa angkatan pertama SMAN 2 Mori Atas sangatlah tinggi, sehingga secara otomatis hal ini mendorong guru-guru di sana untuk bersemangat dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik di tengah keterbatasan yang ada. SMA Negeri yang terletak di tengah-tengah "padang rumput tidur" dengan 1 gedung kecil tanpa meja kursi, kamar mandi, ruang kantor, perpustakaan, laboraturium dan pagar sekolah. Itulah kondisi awal berdirinya sekolah ini. Sekolah tempat penempatan kami yang sangat butuh perhatian dari pemerintah daerah.
Tenaga pengajar pertama hanya kepala sekolah, dibantu dengan guru-guru senior dari SMP setempat. Guru pertama pada sekolah ini sangatlah sedikit dengan jumlah lima guru termasuk kepala sekolah. Adapun guru-guru ini harus mampu mengajar mata pelajaran Agama dan PKn, bidang IPS, bidang IPA, bidang bahasa dan mulok. Tentu menjadi guru di sekolah baru bukan semudah di sekolah yang sudah berdiri lama. Guru pertama di sekolah ini harus bisa mengampu 2 sampai 3 mata pelajaran untuk dapat memenuhi tuntutan kurikulum yang ada. Melihat kondisi ini merupakan sebuah dilema, disisi yang pertama guru harus dituntut mendidik dengan kompetensi dan profesionalisme sesuai bidangnya, disisi lain kurikulum menuntut sekolah untuk memberikan 14 sampai 16 mata pelajaran perminggu kepada siswa. Masalah kekurangan guru ini memang menjadi prioritas yang perlu diselesaikan oleh sekolah dan pemerintah sebagai regulator kebijakan pendidikan. Disinilah peran kami mulai dihadirkan, kami sebagai guru SM3T saat ini ditugaskan untuk membantu sekolah yang sedang mengalami permasalahan kekurangan guru seperti ini. Selain itu kami pun diminta untuk mampu secara profesional dalam memberikan pemahaman tentang metode mengajar yang baik, pemanfaatan media dan sumber belajar serta perbaikan dalam perangkat dan evaluasi pembelajaran.
Memasuki usianya yang keempat, SMAN 2 Mori Atas mulai berbenah dan meningkatkan pelayanan pendidikannya. Pembangunan kelas baru, ruang perpustakaan, ruang kantor, pagar sekolah dan kantin pun dilakukan demi menciptakan suasana belajar yang baik. Pembelian buku, meja-kursi, alat olahraga dan media/peraga pembelajaran pun terus ditambah setiap tahunnya. Selain itu jumlah guru pun ditambah, tetapi beberapa mata pelajaran belum memiliki pengampu. Alhasil masih ada guru yang mengampu dua mata pelajaran atau lebih. Melihat perkembangannya yang cukup baik semua orang menaruh harapan besar pada sekolah ini untuk terus berkembang dan mampu memberikan fasilitas yang lengkap dan baik bagi siswa-siswanya.