Sunday, 19 March 2017

Profil Singkat Desa Pengabdian

Saemba, adalah desa yang terletak di provinsi Sulawesi Tengah tepatnya di kecamatan Mori Atas. Desa yang dikelilingi oleh bukit-bukit ini berada tepat di perbatasan antara Kab. Poso dan Kab. Morowali Utara yaitu sebelah barat daya dari kabupaten Morowali Utara. Jarak tempuh desa ini ke wilayah kabupaten Poso lebih dekat dibandingkan ke pusat pemerintahan kabupaten Morowali Utara. Jadi, masyarakat desa ini lebih sering berkunjung ke wilayah kabupaten lain daripada ke kabupaten sendiri. Yah, begitulah perbatasan.

Masyarakat desa Saemba 98% beragama Kristen dan sisanya adalah Islam dan Hindu. Karena mayoritas agama di desa ini adalah Kristen, maka kegiatan-kegiatan yang paling banyak adalah kegiatan keagamaan umat Kristen. Apalagi ketika perayaan hari besar umat Kristen, seperti Natal dan Tahun Baru. Desa ini merayakannya dengan sangat meriah. Bahkan serangkaian kegiatannya dilaksankan selama 1 bulan sebelumnya.
 
Orang-orang desa Saemba sangat ramah. Terbukti ketika ada pendatang yang bermukim di desa ini (seperti kami), akan disambut dan diberi pelayanan sebaik-baiknya selama disini. Toleransi keagamaan juga sangat dijunjung tinggi. Masyarakat desa ini sangat menghargai perbedaan agama. Contohnya: Ketika mereka mengadakan suatu kegiatan pesta dan mengundang  orang dari agama lain, makanan yang dihidangkan pasti dibedakan. Mulai dari kokinya, alat masak, hingga bahan-bahannya.

Mata pencaharian masyarakat desa Saemba ini mayoritas adalah bertani dan berkebun. Hasil pertanian rata-rata adalah padi dan jagung. Ada hasil perkebunan yaitu cokelat dan sawit. Selain bertani, pekerjaan masyarakat desa ini adalah pendeta, guru, bidan, perangkat desa, dan lain-lain. Kondisi ekonomi masyarakat desa ini rata-rata menengah-kebawah. Hal ini dapat terlihat dari gaya hidup mereka yang masih sederhana, penghasilan tiap bulan yang rata-rata masih dibawah 2 juta dan rumah-rumah yang mereka miliki kebanyakan masih terbuat dari bambu atau kayu. Akan tetapi walaupun begitu, sebagian besar mereka sudah memiliki kendaraan pribadi seperti motor dan mobil. Menurut pengamatan penulis, mengapa mereka menomorsatukan kendaraan daripada tempat tinggal? Alasannya adalah kendaraan yang mereka miliki ini sudah menjadi kebutuhan primer bagi mereka. Desa ini sangat jarang dilewati kendaraan umum. Pekerjaan mereka sehari-hari membutuhkan transportasi, seperti ke sawah atau kebun. Akhirnya mereka sangat membutuhkan kendaraan seperti motor pribadi.

Hubungan antar warga yang satu dengan yang lain sangat baik. Nilai-nilai kebersamaan selalu terjalin baik dalam seluruh lapisan masyarakat desa Saemba ini. Menurut penulis, hal ini terjadi karena ketaatan mereka dalam beragama sangat baik. Hampir seluruh warga desa Saemba, mulai dari yang kecil hingga yang tua selalu bersemangat untuk beribadah. Jika tiba waktunya ibadah, mereka akan meninggalkan apapun kesibukan mereka, dan bergegas menuju gereja atau tempat ibadah mereka. Semangat beribadah merekalah yang patut diacungi jempol dan ditiru untuk pemeluk-pemeluk agama lain.

Kami sebagai pendatang merasa sangat nyaman tinggal di desa ini. Kami diterima dan diperlakukan dengan baik. Penulis berpesan jika ingin diterima dan diperlakukan dengan sangat baik oleh warga/masyarakat desa yang kita datangi, kuncinya adalah memprioritaskan penyesuaian dengan kebiasaan mereka. Seperti kata pepatah Jawa, desa mawa cara, negara mawa tata. Artinya, setiap desa atau daerah memiliki cara dan adat yang berbeda-beda. Jadi jangan terlalu memaksakan kebiasaan-kebiasaan dari daerah asal yang berbeda dengan kebiasaan di daerah yang kita datangi.

Kami berharap hubungan kami dengan masyarakat desa Saemba akan tetap terjalin dengan baik tidak hanya sampai akhir penugasan kami, namun selamanya. As we know, a good relationship will create a good society.

Terimaksih telah membaca, dont forget to click the follow button. ^,^

Sunday, 5 March 2017

Perjalanan Awal ke Tempat Pengabdian

Pada waktu itu kami masih menjalani karantina di salah satu Instansi Militer yang ada di Kota Malang. Menginjak hari-hari terakhir, yaitu hari-hari diumumkannya tempat penugasan kita, perasaan kami begitu berdebar-berdebar karena menunggu hasil penempatan.

Tibalah hari tersebut, tepatnya tanggal 31 Agustus 2016. Hari itu adalah H-1 pemberangkatan. Kami menerima pengumuman penempatan hanya beberapa jam sebelum kami berangkat ke daerah masing-masing. Terdapat 5 (lima) kabupaten penempatan yang dipilih untuk penugasan kami. Lima lokasi tersebut adalah Kab. Simeulue, Kab. Manggarai Barat, Kab. Morowali Utara, Kab. Boalemo dan Kab. Pegunungan Bintang. Setelah melewati berbagai kecamuk dan rasa penasaran, ternyata saya ditugaskan di Kabupaten Morowali Utara Prov. Sulawesi Tengah. Pada saat itu perasaan campur aduk, entah senang atau sedih, yang jelas dalam pikiran saya sebentar lagi saya akan berangkat meninggalkan pulau Jawa untuk satu tahun penuh tanpa boleh pulang.

Malam pun tiba, sebelum berangkat kami dikumpulkan terlebih dahulu dengan teman-teman satu penempatan untuk melakukan rapat serta briefing persiapan pemberangkatan. Saya dan teman-teman penempatan Morowali Utara berjumlah 57 orang berangkat dari lokasi karantina Pk. 02.00 WIB (dini hari), jadi kami tidak tidur pada malam itu. Bahkan mencoba tidurpun tidak bisa.

Kami berangkat menggunakan bus yang telah disiapkan oleh pihak LPTK. Ada hal lucu yang terjadi sebelum pemberangkatan malam itu. Ada banyak bus yang datang ke lokasi karantina untuk mengantar kami ke bandara, dengan jenis yang berbeda-beda. Bus yang seharusnya kami tumpangi adalah bus yang berkapasitas 60 orang. Awalnya kami menaikkan barang-barang bawaan kami ke dalam bus yang ditujukan untuk penempatan lain, dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit dari kami. Setelah barang-barang dinaikkan semua, barulah kelihatan kalau bus ini bukan bus untuk penempatan kami. Jadi terpaksa kami harus menurunkan kembali barang bawaan kami dan menaikkannya ke dalam bus yang seharusnya. Setelah itu kami melakukan perjalanan menuju bandara Juanda selama 3,5 jam.  Kami dijadwalkan terbang Pk. 08.00 WIB. Kami check in di bandara pagi itu, tanpa kendala dan langsung terbang menuju Kota Palu ibukota Prov. Sulawesi Tengah.

Pukul 12.00 WITA pesawat yang kami tumpangi tiba di Bandara Sis Al-Jufri kota Palu. Setelah turun dari pesawat kami pun kaget. Suhu udara disini sangat berbeda dengan di Jawa, khususnya Malang. Udara di kota ini begitu panas dan gerah, apalagi kami tiba di siang bolong dengan terik matahari yang cukup menyengat. Serasa ada tiga matahari di atas kepala kami. Yah, tapi kami menyadari memang kota ini secara geografis adalah kota yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga kondisinya berbeda dengan Pulau Jawa.

Perjalanan masih panjang, siang itu kami melanjutkan perjalanan menuju Kab. Morowali Utara tepatnya di Kota Kolonodale, ibukota Kab. Morowali Utara. Perjalanan darat ini cukup melelahkan, karena harus melewati gunung-gunung dengan jalan yang berkelok-kelok. Beberapa dari kami sempat mabuk darat waktu itu. And after 18 hours we finally arrived. Yepp, it was literally a fucking 18 hours by car. Betapa lamanya perjalanan tersebut, jadi kami tiba di Kolonodale pagi hari sekitar Pk. 06.00 WITA. Sampai disana kami belum beristirahat, karena kami harus segera mengikuti acara penerimaan guru SM3T yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali Utara. Letih dan lelah semua campuar jadi satu. Akan tetapi kami sadar kami tidak boleh mengeluh ataupun menyesal. Karena kami telah dididik dan dibina agar memiliki fisik dan mental yang prima.

Setelah acara penerimaan selesai, masih lanjut kembali perjalanan darat menuju desa penempatan masing-masing. Kebetulan saya bersama 4 teman saya yang lain ditempatkan di desa yang sama yaitu Desa Saemba. Perjalanan ini masih lumayan lama juga, karena harus melewati medan jalan yang terjal. Kondisi jalan 80% masih tanah dan belum diaspal. Selama lima jam kami melakukan perjalanan terakhir selama pemberangkatan ini. Akhirnya kami tiba di desa penempatan kami. Desa yang benar-benar jauh dari pusat perkotaan. Desa yang indah, nyaman dan tentram. Desa yang menjadi tempat pengabdian kami selama 1 (satu) tahun kedepan. From here all we start it. And we will never give up till the end.